Chapter – 4

SMA?

Waktu tiga tahun di SMP akhirnya selesai juga. Aku beranjak lagi satu tingkat ke atas. “SMA”. Katanya sih masa-masa di SMA itu masa-masa yang paling indah. Bener gak ya?? hemM..coba kita ingat-ingat lagi apa aja yang udah terjadi. Dari awal masuk sampai kita lulus. Semua orang pasti punya cerita dan alasan sendiri tapi menurut aku SMA memang masa-masa yang paling indah. Waktu pertama kali mendengar kata SMA yang ada di benakku adalah “Gadis        dewasa        segar” hehe. Tapi setiap orang kan punya pandangan sendiri. Yah paling tidak itulah yang ada dalam pikiranku. Perjalanan panjang selama tiga tahun tidak akan lengkap tanpa cerita awal dari semua ini. Awal aku masuk SMA. Lets Go!!!

Setelah lulus SMP tentu saja aku ingin melanjutkan sekolah ke SMA yang banyak teman – temanku. Sebut saja SMA X (gak boleh nyebut merk, bukan sponsor hehe ) Tapi sebagai cadangan aku juga mendaftar ke SMA yang lain seandainya aku tak diterima di SMA X, sebut saja SMA Y. Di SMA X aku ikut masuk lewat seleksi raport. Dengan percaya dirinya ngumpulin raport. Hasilnya? Gagal!! Apa?! gak Mungkin!!! Unbelieveable!!! Maunya sih bilang gitu tapi Nilai 5 di mata pelajaran IPA dan nilai IPS bikin aku bisa memaklumi ini hehe. Tapi kabar gembiranya aku diterima di SMA Y. Yah paling tidak aku sudah punya kepastian masa depan tetap bakal menghabiskan masa remajaku di bangku SMA. Tapi aku tetap pengen masuk SMA X. Oke minggu depan aku ikut ujian tulis.

Oke sebelum kita lanjutkan cerita aku pengen ngasih gambaran tentang SMA X dan SMA Y yang dari tadi ku sebut – sebut. SMA X adalah SMA favorit di Kotaku yang lebih berprestasi daripada SMA Y. Sedangkan SMA Y adalah bla bla bla..& bla bla bla.. karena itu SMA Y terus mengadakan program – program yang dapat meningkatkan mutu pendidikan muridnya. Salah satunya adalah pemberian pelajaran dengan intensif dan terkontrol. Kalau di sederhanakan bisa kita sebut “Asrama”. YupZ.. kita sudah menemukan titik terang. Asrama!!! Dan itulah yang membawaku malam itu berada di meja makan bersama ayah dan ibuku. Mereka ingin aku di asrama sedangkan aku tidak. Rapat malam ini dinamakan “rapat demokrasi”. Aku mengungkapkan keinginanku dan orang tuaku mengungkapkan keinginannya. Cukup adil.

Aku emosi. Aku berbicara panjang sekali. Tentang keinginanku. Dan keinginan pertamaku kumulai dengan “aku ingin minum.” YOi guys minum dulu biar tenggorokannya fresh & ngomongnya lancar. Aku mulai ngomong. Ku lirik jam dinding di sebelahku. 15 menit!!! Wow!!! Aku udah ngomong 15 menit tanpa jeda. Orang tuaku masih mendengarkan ku. “Terus kamu mau apa?” ibuku memotongku. Semua pikiranku tiba – tiba buyar. Semua emosiku hilang. Aku bingung mau ngomong apa. “ aku gak mau sekolah di sana” kataku pelan. Tiba – tiba ayahku berkata dengan nada sedikit emosi, “kalau kamu gak mau sekolah di sana, gak usah sekolah sekalian!!! Bapak kasih uang 3 juta jualan di pasar malam!!!” aku terdiam. Jualan di pasar malam??? Oh No!!!

KHAYALANKU..

(Session 1)

“10 ribu 3.. 10 ribu 3.. dipilih..dipilih..” teriak – teriak di depan amparan DVD bajakan yang dijual “ Film baru..film baru..10 ribu dapat 3”

“ Bang ada MP3 Green Day?”

“ Ada.Wah seneng lagu Punk juga ya?”

“Iya bang. Berapa bang harganya?”

“Murah Cuma 5 ribu kok.”

Dan akhirnya percakapan pun berlanjut.

Yah paling tidak pekerjaan ini masih punya sisi enaknya. Bisa cuci mata kalau yang beli cewek cantik. Syukur – syukur bisa kenalan. Tapi tentu saja ada khayalan lain dalam pikiranku.

Session 2

“ Bang ada jual kaset BOK*P gak?” tentu saja banyak pembeli – pembeli seperti ini. Di Zaman semua belum serba download. Barang beginian lagi gencar – gencarnya dicari (zaman penulis masih SMP).

“Hmm..” bergumam sambil mengawasi calon pembeli apakah aman atau tidak. “Ada, mau versi apa?”

“miyabi deh bang.”

Jualan barang beginian memang resikonya besar. Rawan ma grebekan polisi. Tapi tingkat keuntungan yang besar bikin orang banyak yang melakukannya. Karena menghindari terjerumus dalam hal seperti ini akhirnya aku memilih untuk mengemas semua pakaianku dan menuju SMA Y (lumayan buat ngangkat Image penulis di mata pembaca hehe). Kalau kata Peterpan sebuah nama sebuah cerita maka sebuah tempat yang  ada banyak nama pasti banyak cerita. Dan memang banyak cerita yang kualami di masa – masaku di asrama. Ini baru awalnya. Masih banyak lika – liku menuju akhir.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: