Chapter – 9

7 Bulan setelah itu

Kembali ke cerita cinta. Seperti yang udah ku certain sebelumnya. Aku pacaran ma hafidza. Dimulai tanggal 01 Oktober 2005 dan berakhir 7 bulan stelah itu. Tepatnya tanggal 26 Mei 2006. Gak bisa dipungkiri saat itu aku senang pacaran dengannya. Aku punya teman berbagi. Ketawa – ketawa bareng. Yah biasalah seperti orang pacaran pada umumnya. Di kelas kami juga berdua terus. Mungkin teman – teman sekelasku waktu itu bingung. Kok ni orang kerjaannya berdua terus??? Apa gak bosan ya? Yah mau gimana namanya juga orang kasmaran hehe. Sampai – sampai saat itu kami dinobatkan sebagai pasangan terhangat. Yah mungkin di mata mereka kami kelihatan mesra. Apa iya? Entahlah.. tapi kayaknya sih iya ^^ hehe. Aku jadi ingat setiap hari disuruh belajar ma dia. Apalagi kalau ada ulangan harian. Wah ketahuan deh pemalasnya. Sangkin malasnya pernah aku gak lulus semua ulangan harian. Kayaknya Gara – gara itu dia pengen dongkrak kepintaranku yang cuma setara amoeba. Hmm.. Maaf ya Hafidza kalau usahanya gak berhasil hehe.

Terus kalau aku ngerasa senang kok kami putus??? sebenarnya saat itu aku juga gak nyangka bakal putus ma dia. Bisa dibilang semua diluar perkiraan. Aku juga gak pernah berpikir untuk nyakitin dia. Yupz aku yang mengakhiri hubungan ini. kalian pasti bingung kenapa aku ngelakuin ini. sebenarnya gak ada masalah apa – apa. Karena itu dalam tulisan kali ini aku pengen jelasin semua tentang perasaanku saat itu. Apa yang terjadi dan apa yang menjadi pilihanku.

Semuanya berawal saat itu. Ketika Hafidza sakit. Kata anak – anak dia demam. Panasnya tinggi. Jadi dia diizinkan pulang dan istirahat di rumah sampai sembuh. Aku yang mengantarnya pulang. Sore hari setelah jam pelajaran selesai. Wajahnya pucat, kepalanya bersandar di bahuku. aku khawatir padanya. Kubilang padanya agar banyak istirahat supaya cepat sembuh. Semoga bisa cepat sekolah lagi. Waktu itu aku belum punya handphone jadi selama dia dirumah kami gak ada berhubungan sama sekali. Jadi wajarlah aku mengharapkannya cepat kembali saat itu. Ceritanya bakal kangen ni hehe. Tapi ternyata dia gak masuk sekolah sampai 3 hari. Dan dalam 3 hari itu terjadi perubahan besar di perasaanku. Terus apa yang terjadi dalam 3 hari itu? Kalian akan segera mengetahuinya kawan.

Lia. Nama lengkapnya Velya Aurelia (Yoi Guys kayak biasa nama samaran) J. Teman sekelasku. Anaknya cantik dan banyak yang suka kepadanya. Dimulai dari kakak kelasku, temanku, Sampai Anak SMA Y juga sepertinya banyak yang mengincarnya. Kadang aku melihat anak SMA Y duduk disamping kelas kami. Menggoda dia yang duduknya disamping jendela. Kayak gak ada kerjaan banget. Mending ngelakuin hal yang lebih bermanfaat. Misalnya ngelapin tiang bendera, kan lumayan tu tiap upacara bendera tiangnya kelihatan mengkilap. Atau bikin gerakan tanam seribu pohon di lapangan upacara jadi biar sekalian gak ada upacara lagi hehe.  Aku sendiri bisa dibilang gak sadar akan keberadaannya. Jadi karena itu aku gak terlalu memperhatikannya. Mungkin kalau aku memperhatikannya aku juga ikutan mereka Cuit – cuit dari samping kelas. Pasti ntar aku dibilang stress. Teman sekelas sendiri digodain dari luar jendela haha. Sebenarnya saat itu dia juga pasti tak menyadari keberadaanku. Aku memulai masuk kelas ini dengan diam jadi wajar saja kalau keberadaanku gak disadari. Bukan hanya olehnya tapi kayaknya dengan semua penghuni kelasku saat itu. Tapi yang aku sadari sejak masuk sekolah ini hingga semester dua aku belum pernah ngobrol dengannya. Pemikiran inilah kemudian yang merubah semuanya.

Setting kali ini di kelas X-1. Waktu itu lagi pelajaran kimia. Saat itu kami Cuma diberi tugas soalnya gurunya gak datang. Yah seperti biasalah kelas jadi ribut. Gak tahu gimana awalnya pokoknya aku duduk disebelah Velya. Malahan waktu itu aku diajarin kimia ma dia. Nah habis ngerjain tugas itu aku ngobrol – ngobrol ma dia. Dan percakapan kami dimulai waktu dia bilang “ Yan kamu beda ya..” sebuah pernyataan yang bikin aku mengerutkan dahi. Ya iyalah tiba – tiba dibilang beda ma cewek pastilah bingung. “Mangnya beda apanya?” aku bertanya padanya. “Yah beda aja. Sikap kamu memperlakukan wanita”. Sikap memperlakukan wanita? Aku makin gak ngerti. Ku Tanya lagi padanya, “sesuatu yang beda itu bagus atau gak?”. “Yah menurutku sih bagus.” Nah berawal dari situ. Selama 3 hari itu aku jadi ngobrol ma dia terus. Bermodal kata – kata itu, aku jadi berpikir apa aku bisa bikin dia sedikit tertarik padaku dengan “beda” yang ada padaku. Pemikiran yang bodoh. Akhirnya malah aku yang suka ma dia.  Gara – gara itu perasaan sayangku ke Hafidza hilang. 3 hari!!! Cuma karena 3 hari kawan, 7 bulan yang ku lalui dengannya seperti menghilang begitu aja. Waktu yang sangat singkat sekali.

Sebenarnya setelah 3 hari itu bukan hanya perasaanku ke Hafidza yang menghilang. Perasaanku ke Velya juga jadi biasa aja. Perasaanku jadi kosong. Gak ada siapa – siapa. Sama seperti 7 bulan sebelum ini. Saat aku belum menyukai siapa – siapa. Aku melamun sendiri di depan kelasku. Baru saja aku bertemu Hafidza. Aku tersenyum dengan perasaan datar. Aku menyapa dengan rasa yang tak ku harapkan. Dan aku semakin menyadari kalau aku harus segera mengakhiri hubungan ini. Mengakhiri kisah yang telah banyak membawa perubahan dalam kepribadianku. Mungkin kisah ini akan berlinang air mata. Tapi aku tahu inilah akhir dari semuanya.

Namun saat itu gak tahu gimana caranya untuk mengakhiri hubungan ini. Ahirnya aku memilih diam dan gak menegur Hafidza sampai dia marah terus mutusin aku. Cara ini setengah berhasil, dia marah tapi hubungan ini masih terus berlanjut. Sampai lewat satu minggu seperti ini. Cara ini kunyatakan gagal. Lama – lama aku merasa bersalah karena menggantung hubungan seperti ini. Saat itu kuputuskan meminta maaf padanya dan aku kembali bersikap biasa. Hafidza kembali tersenyum dan hubungan kamipun kembali seperti biasanya. Namun sore itu saat kami berdua sedang ngobrol aku gak tahu kenapa omonganku selalu mengarah ke mengakhiri hubungan kami. Obrolan yang diawali dengan tawa itu berubah menjadi pembicaraan serius dan diakhiri dengan kata – kata yang menyayat perasaanku. Dengan berlinang airmata dia mengatakan hal ini, “Apa perlu kita putusnya tanggal 30 september aja biar keren!” perkataan yang sering ku candakan padanya. “Ntar putusnya tanggal 30 september aja biar keren jadi pas sama lagu Wake Me Up When September Ends.” Aku terdiam menatap kepergiannya.

Malamnya kuputuskan untuk mengajak Hafidza bicara untuk meyelesaikan masalah ini. Malam itu Hafidza terlihat tenang. Sesuatu yang diluar perkiraanku. Kukatakan padanya aku tak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Mungkin dengan berteman hubungan kami bisa jadi lebih baik lagi. Dia tersenyum. Dia menerima semuanya dan dia berkata padaku supaya kami jangan sampai gak teguran Cuma gara – gara putus. Aku balas senyumnya lalu ku bilang padanya kalau kami tetap teman. Kemudian aku pergi ke tempat teman – temanku yang sedang berkumpul. Mereka menyambutku kemudian menepuk bahuku. Mereka tak bilang apa – apa tapi aku yakin pasti tepukan itu berarti “Selamat menata kembali hidupmu kawan.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: