Chapter 10

Yellow Rice, Vinda 06

(Mimpi yang tak ada akhirnya)

Seperti anak – anak muda lain yang bermimpi jadi anak band. Aku pun telah memimpikan hal ini sejak SMP. Dan orang yang jadi inspirasiku adalah temanku sendiri, Muhammad Nizar Hidayat. Ceritanya waktu aku kelas 2 SMP kami punya hobi baru. Nge-Band!!! Awalnya aku cuma ikut – ikutan ke rental band. Nonton teman – temanku main. Bisa dibilang semuanya pemula. Jadi bisa dibayangkan saat itu keadaan studio yang dipenuhi bunyi – bunyi cempreng yang memekakkan telinga. Mungkin orang yang dengar mengira lagi dengar suara siksa kubur ckck. Biasanya kami ke rental band sehabis pulang sekolah. Yah Sekali seminggu atau dua kali seminggu kalau lagi semangat – semangatnya.  Gara – gara itu kuputuskan untuk meminjam gitar temanku buat belajar. Supaya aku gak cuma jadi penonton disana. Sebulan belajar aku sudah lumayan bisa main gitar. Dan kumpulan anak – anak yang banyak ini akhirnya lama – lama hanya tersisa tiga orang. Aku, Nizar dan Yoeri. Yoeri ngedrum, Nizar vocal sambil main gitar dan aku pegang bass. Biasanya kami main lagu peterpan. Tapi gak lama kemudian mimpi baru terlahir. Nizar datang sambil bawa kaset. “Dengarin ni! Ntar Kita pelajarin. Kita main lagu ini aja.” Kulihat covernya tulisannya “Green day- American Idiot” malamnya kuputar terus lagu itu. Awalnya aku gak tahu apa yang menarik dari band ini. Lagu ini terus kuputar tiap hari dan setiap kami main band Cuma lagu – lagu Green Day yang kami nyanyikan. Ada sensasi baru yang kurasakan disini. Setiap selesai main band perasaanku jadi plong dan semua masalah hilang dari pikiranku. Begitu juga saat aku dengar lagunya semangatku timbul lagi. Saat itulah aku jadi Fans berat Green Day bersama Nizar dan Yoeri. Dimulai dari album American Idiot yang jadi album terbarunya saat itu. kami kemudian mencari semua kaset Green Day album – album sebelumya.

Suara Nizar yang berat membuat sensasi tersendiri dan satu hal yang kukagumi darinya. Dia pandai menciptakan lagu. Bisa dibilang aku fans setia lagu – lagi ciptaannya. Sejak saat itu aku bermimpi jadi anak band. Tapi semua gak semudah yang dibayangkan. Waktu masuk SMA aku diasramakan jadi aku cuma bisa main di akhir pekan. Awalnya setelah masuk SMA kami bertiga mau kursus musik bareng tapi karena aku masuk asrama rencana kami gagal. Kemudian setelah lulus SMA aku kuliah di luar pulau. Jadi semua rencana kembali berantakan. Dan semakin berjenjang pendidikan kami semakin tahu ternyata kehidupan lebih realistis dari yang dipikirkan. Itu membuat semangat untuk mengejar mimpi menjadi agak pudar.

Sebenarnya saat SMA aku kembali bermimpi tinggi. Sejak aku, Adult dan Sardy membentuk band yang kami beri nama vinda 06. Adult main gitar, Aku pegang Bass dan sardi Vokalis. Kelemahan band ini adalah gak ada drummer. Tapi walau begitu banyak lagu yang kami ciptakan. Hampir semua terinspirasi dari kisah kami masing – masing. Semenjak saat itu aku mulai suka bikin lagu. Disetiap acara api unggun disekolah lagu – lagu itu pasti kami mainkan. Biarpun cuma lingkup sekolahku ternyata banyak yang suka lagu – lagu kami. Disanalah mimpi kembali terlahir. Rekaman, sukses dan terkenal jadi kata – kata yang selalu mengiangi pikiran kami. Mungkin yang aneh skill pas – pasan tapi cita – cita setinggi langit hehe. Tapi mimpi kembali jadi mimpi. Setelah lulus SMA kami kuliah di daerah yang berbeda – beda. Selain itu saat kuliah semuanya seperti mendapat tujuan hidupnya masing – masing. Aku, Nizar, yoeri, Adult Sardy. Tapi dalam hati aku terus berharap semoga apa yang telah kami ciptakan gak hanya terkubur tanpa ada yang tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: